Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Monday, January 7, 2013

Diabetes Overwhelming

Yesterday, Baby Stark did C-peptide test, it was the test to determine whether he would develop Diabetes Type 1 or not. The test did at the laboratory and it took 1 day to get the result.

Today, we received the result, it was 2.47 ng/ml and according to the doctor, it was a good result and it means Diabetes Type 1 threat can be avoided. But I don’t know whether we have to re-test in next few years or this test will be valid in rest of his life.

My wife past-pregnancy test was also in good marks, the obgyn said, “see you again in next pregnancy” Smile with tongue out

Sunday, December 9, 2012

Early gift from God

IMG-20121203-00873

A week ago, God gave us an early wedding anniversary gift. It is a baby boy, born on 30 December 2012 17:23, weight 3.7kg, length 51cm.

His name is Benedictus Stark Marcello. He used to be called by Cello. But I prefer called him by Baby Stark.

Benedictus reminds me with the Pope Benedict XVI, it means blessed.

Stark means strong and brave, actually that name was inspired by Tony Stark (Iron Man). Both of us like Iron Man movie, especially Ochi, Robert Downey Jr. is her idol.

Marcello, actually I don’t know the meaning, that name was inspired by Marcell, an Indonesian singer who sang Firasat. Ochi loves her voice so much.

Actually, I have not put my family name, it is Sutjahja, but I think it is not necessary since Benedictus Stark Marcello is long enough name, besides, in my identity card I don’t have family name.

Well…..Welcome on board baby Stark! You are the precious gift from God for our second year wedding anniversary Smile

Monday, August 27, 2012

SARA

Kurang dari 1 bulan lagi pilkada putaran kedua di Jakarta akan dilakukan, belakangan ini banyak sekali black campaign yang memojokkan Ahok sbg calon wakil gubernur. Mereka menuduh nonmuslim (yang diwakili oleh sosok Ahok) menindas umat muslim dan mereka mengambil contoh dari Amerika atau negara-negara di Eropa, atau yang baru-baru ini terjadi di Rohingya. Pertanyaannya, kenapa selalu kita membandingkan Indonesia dengan negara-negara itu? Kenapa nonmuslim di Indonesia dibandingkan dengan nonmuslim di Amerika atau Eropa?

Kalau toh nonmuslim di Eropa dan Amerika berbuat tidak adil dan menzalimi umat muslim di sana, bukankah kita, sebagai bangsa Indonesia, bisa lebih baik dari mereka? Tidak ada alasan bagi kita untuk mengikuti tindakan buruk mereka itu! Kita bisa berbuat jauh lebih baik dari mereka.

Kalau umat Kristen jadi pemimpin di negara ini, kami juga punya perintah yang sangat jelas tertulis di Alkitab bahwa kami tidak boleh hanya memperhatikan kepentingan kami sendiri, kami harus juga memperhatikan kepentingan orang lain. Jika memang ada pemimpin Kristen yang zalim, janganlah lihat agama Kristennya yang berbuat jahat, sama hal nya seperti seorang muslim berbuat jahat, janganlah dilihat agama Islam nya. Saya percaya, apapun agamanya, jika seseorang memang kelakuannya bejat, ya jadi orang yang bejat. Sebaliknya, meskipun seorang atheis pun, kalau kelakuannya baik, dia bisa jauh lebih baik dari orang yang mengaku beragama.

Meskipun mata saya sipit, saya keturunan cina, tapi seumur hidup saya tidak pernah sekalipun saya menzalimi teman-teman saya yang muslim. Kadang saya mengingatkan mereka untuk sholat jika memang sudah waktunya sholat, dan itu saya lakukan karena saya sadar, Tuhan yang ada di Atas sana, tidak membeda-bedakan umat ciptaannya, dan saya pun harus berbuat hal yang sama. Matahari tidak hanya terbit untuk orang Islam atau Kristen, tapi orang jahat pun menikmati matahari.

Oleh karena itu, ayolah, jangan perbedaan agama ini dijadikan alasan untuk memecah persatuan Indonesia. Indonesia bisa menjadi negara dan bangsa yang jauh lebih baik dari Amerika dan negara-negara di Eropa sekalipun. Kalau kita masih membanding-bandingkan diri dengan negara-negara barat itu, mau sampai kapan kita bisa lebih maju dari mereka? Buktikanlah kita punya identitas sendiri, yaitu walaupun berbeda tetapi tetap satu! Saya percaya, jika masing-masing dari kita membuang jauh-jauh semua pikiran negatif tentang perbedaan SARA ini, Indonesia bisa menjadi lebih baik dari negara manapun, karena dengan perbedaan itu bukan lagi menjadi penghambat tapi menjadi kekuatan bersama.

Friday, August 10, 2012

Bandung

Tiap kali ke Bandung, saya selalu ingat waktu kecil dulu kalau mau pergi ke Bandung, harus lewat jalur Puncak, karena dulu belum ada tol Cikampek-Padalarang (Cipularang) dan waktu tempuh dari Jakarta ke Bandung kalau lewat jalur Puncak, mungkin bisa mencapai 3.5 sampai 4 jam tergantung keadaan jalanan. Bandingkan kalau lewat tol Cipularang, dari Jakarta ke Bandung cukup 2 sampai 2.5 jam. Terakhir ke Bandung lewat jalur puncak ini di akhir 2011 lalu, kebetulan saat itu ada acara keluarga nginap di Puncak, lalu lanjut ke Bandung.

Boleh dibilang, jalur Jakarta-Puncak-Bandung adalah jalur nostalgia, sekitar tahun 90an dulu keluarga saya sering pulang-pergi Jakarta-Bandung lewat jalur ini karena kakak saya kuliah di ITB, jadi ortu sering berkunjung ke Bandung.

Salah satu tempat yang paling melekat di ingatan adalah jembatan Citarum Rajamandala. Dulu disebut jembatan tol, karena sebenarnya untuk lewat jembatan itu harus bayar seperti layaknya masuk jalur tol, dan motor pun boleh melalui tol singkat ini.

Tapi sekarang, lewat jembatan ini sudah digratiskan, dan sepertinya jembatan ini jadi agak terlihat tidak terurus baik.

Hal lain yang saya ingat betul adalah saat masuk ke daerah Padalarang, mulai banyak gunung kapur sehingga kita harus jalan beriringan dengan truk-truk pengangkut marmer/keramik, harus sabar jalannya karena truk-truk itu berjalan pelan melalui tikungan-tanjakan-turunan, dan seringkali tidak ada rambu lalu lintas yang memberikan petunjuk tikungan ke kiri atau kanan, jadi ya benar-benar harus hati-hati.

Kalo dibayangin, rasanya cape bener ya Jakarta-Bandung lewat jalur Puncak ini. Mau ga mau, suka atau ga suka, pulang pergi lewat jalur ini, lelah itu pasti. Saya jadi salut sama papi saya yang dulu selalu melewati jalur ini demi mengunjungi anaknya yang kuliah di Bandung.

Thursday, August 2, 2012

Servis Tablet

Tadi siang ambil tablet saya yang diservis karena beberapa hari lalu LCD nya ada beberapa bintik putih seperti stuck pixel dan tombol Home yang tidak berfungsi. Sebenarnya tablet yang saya miliki ini brand nya kurang terkenal, merek lokal yang waktu saya beli dibundling dengan salah satu operator CDMA. Tapi lumayan lah, sekedar untuk baca-baca berita dan email. Jangan dibandingin dengan iPad atau Galaxy Tab ya, tablet saya ini cuma untuk baca-baca saja, tidak pernah dibuat main game Angry Birds atau yang lainnya karena saya juga memang tidak begitu suka main game.

Walaupun materialnya ga sebagus iPad atau Galaxy, tapi tablet ini lumayan berguna. Saya sering menggunakannya kalau untuk mencari jalan baik jalanan di Jakarta atau di luar kota. Kalau jaman dulu, saat bepergian kita harus bawa peta, sekarang cukup menggunakan Google Maps di tablet, mestinya kita tidak akan tersesat Smile with tongue out Walaupun kadang orang mencibir,

“Eh tablet merek apa tuh? Koq baru denger mereknya”

Atau ketika dikasih tau mereknya, mereka langsung garuk-garuk kepala karena seumur-umur baru denger ada merek itu, tapi ah……biarin aja, yang penting saya membeli tablet ini tujuannya memang hanya untuk baca berita dengan browsing dan baca/reply email. Buat saya, membeli barang itu harus sesuai dengan manfaatnya, kalau beli iPad hanya untuk main game, itu sih kasihan iPad nya karena tidak dimaksimalkan semua potensinya.

Oh iya, nih saya kasih tau merek tablet saya, PixTab Smile

Wednesday, August 1, 2012

Pemecatan

Hal paling terberat dalam pekerjaan, adalah ketika bertemu dengan orang yang kurang qualified tapi terlanjur dipekerjakan. Apalagi jika orang tersebut, sulit belajar hal baru. Untungnya, pemecatan hanya bisa dilakukan selama masa probation, atau selama masa kontrak.

Sebenarnya saya tidak tega melakukan pemecatan anak buah sendiri, di satu sisi saya memang tidak puas dengan kinerja dia saat ini, tapi di sisi lain kehadirannya cukup membawa “beban” tersendiri di tim yang saya pimpin di kantor. Ga dikasih kerjaan, dia cuma nganggur aja atau cuma mengerjakan latihan soal, tapi kalau dikasih kerjaan, saya takut kerjaan itu tidak dikerjakan dengan baik sehingga anggota tim yang lain harus memperbaiki pekerjaannya, ini sama aja kerja dua kali, lebih baik di awal saya menunjuk anggota tim yang mampu mengerjakan pekerjaan tersebut sampai selesai.

Kalau dipikir-pikir lagi, ada hal yang lebih menakutkan dibalik pemecatan. Yaitu, bagaimana jika orang yang saya pecat itu nantinya akan menjadi orang besar, yang ternyata kemampuannya jauh melebihi saya, dan saat itu saya baru sadar, saya telah melakukan kesalahan fatal di masa lalu dengan memecat dirinya.

Saya baru merasakan sekarang, ternyata menjadi seorang pemimpin itu sangat butuh ketegasan, kalau semua didasarkan pada rasa kasihan pada anggota tim yang kurang mampu dan terpaksa harus saya eliminasikan, itu sama saja saya tidak adil bagi anggota tim lain yang lebih mampu secara skill. Semoga keputusan yang saya ambil saat ini, adalah keputusan yang tepat.

Sunday, July 15, 2012

A Baby Boy

Sejak sebelum kami menikah, 2-3 tahun lalu, saya dan Liliana punya angan-angan, bahwa kami suatu hari nanti akan mempunyai anak perempuan yang lucu. Liliana punya 3 keponakan perempuan, dan mereka semua memang lucu. Alasan lain kenapa kami ingin punya anak perempuan, karena di keluarga saya, semua saudara saya punya anak pertama perempuan, lalu yang kedua laki-laki, jadi supaya “seragam”, barisan pertama adalah perempuan, saya pun juga ingin anak pertama kami nanti adalah anak perempuan. Nama anak perempuan kami itu nanti adalah Gracia.

Berlebihan? Ya, memang, saat itu kami belum menikah, baru pacaran beberapa bulan dan berandai-andai nanti punya anak perempuan. Kedengarannya memang lucu Open-mouthed smile Married aja belum kok sudah berani berandai-andai punya anak ? Smile with tongue out

Saat ini kami sudah menikah satu setengah tahun, dan ternyata Tuhan memberikan kami kesempatan kedua untuk memiliki anak setelah tahun lalu, Liliana divonis Blighted Ovum (BO) dan harus menjalani operasi kuret. Saya langsung meminta dia untuk berhenti bekerja supaya kesempatan kedua ini sungguh-sungguh kami bisa perjuangkan supaya bisa memiliki anak.

Dan Tuhan mengabulkan keinginan kami. Sampai hari ini, Liliana menjalani minggu ke-18 kehamilannya. Antara senang dan takut bercampur jadi satu. Di satu sisi saya senang kami memiliki kesempatan kedua untuk punya anak, tapi di sisi lain, Liliana adalah penderita diabetes tipe 1 yang dapat menurunkan “penyakit” itu ke anak kami, walaupun saya pernah membaca secara statistik kemungkinannya kecil. Kami pun berspekulasi, apakah anak ini berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.

IMG00251-20120714-2010“Anaknya Laki-laki”, kata dokter kandungan kami, dan kami pun tertawa mendengar berita itu. Tuhan memberikan kami seorang anak laki-laki. Terpujilah Tuhan!

Dua-Tiga tahun lalu kami memang ingin anak perempuan, tapi kami yakin, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kami, dan Dia memberikan anak laki-laki. Dan sepulangnya kami dari dokter kandungan itu, sepanjang perjalanan pulang, sampai di tempat tidur, kami terus berdebat soal nama laki-laki yang bagus untuk diberikan kepada anak kami.

“Sebastian?”
”You must refer it to a name of German footballer, Bastian Schweinsteiger……….nope”

“Bruno?”
”It’s like a name of doggie……..nope”

“Robert?” (karena Liliana tergila-gila pada Robert Downey Jr.)
"…..(Liliana tersenyum sebentar)……nope….”

Dan setelah perdebatan alot…….kami akhirnya sepakat satu nama. Tapi dia berpesan, tidak boleh dibocorkan dulu nama ini sampai bayi kami lahir Smile

Saturday, December 31, 2011

First Year Anniversary

Ga terasa banget, sepertinya baru setahun yang lalu saya menikahi Liliana. Pesta pernikahan kami dulu tidak mewah, malah tergolong biasa-biasa saja, tapi syukur pada Tuhan kami yang membiayai seluruh pesta itu sendiri tanpa merepotkan orang tua. Dari mulai urus birokrasi gereja yang rumit (karena saya Protestan dan istri saya Katolik), cari tempat pesta, cari tempat tinggal (syukurlah Tuhan memberikan kami apartemen yang walaupun kecil tapi sangat nyaman untuk ditempati), sampai sebar undangan kami lakukan sendiri. Pemberkatan di gereja juga berlangsung sederhana, kami mengadakan oikumene matrimony, yaitu pastor dari gereja istri, Katolik, juga ikut bersama-sama dalam melakukan seremoni pemberkatan pernikahan di gereja saya, GKI. Walaupun saat pernikahan itu, keluarga saya banyak yang tidak datang, tapi saya pikir ah biar saja, toh saya akan memulai lembaran baru dalam hidup saya. Mereka boleh tidak datang di pernikahan saya, tapi apapun yang terjadi saya tetap menikahi calon istri saya, dan itu saya lakukan dengan mengucapkan janji di altar gereja.
Di bulan-bulan pertama tahun pernikahan, saya harus menghadapi sesuatu yang tidak mengenakkan. Karena sesuatu hal, saya terpaksa meninggalkan tempat kerja saya selama dua tahun terakhir, dan memutuskan untuk menjadi freelancer. Kebetulan saat itu, Tuhan sudah memberikan sebuah proyek untuk saya kerjakan sebagai freelancer. Tapi ini hanya berlangsung dua bulan saja, karena saya memutuskan untuk menerima tawaran dari mantan bos untuk kembali ke tempat kerja saya lima-enam tahun yang lalu, kebetulan saya masih menjalin hubungan baik dengan mantan bos saya itu, dan dia memang sudah berulang kali mengajak saya kerja kembali di perusahaannya. Dan kali ini, saya menerima tawarannya itu.
Di tempat kerja yang baru ini saya ternyata menjadi sangat sibuk, seringkali pekerjaan kantor harus saya lakukan sampai tengah malam. Awalnya istri sering protes karena hal itu, tapi lama-kelamaan dia bisa mengerti ritme kerja di IT Consultant memang menuntut kerja keras.
Di pertengahan tahun 2011, ada sebuah peristiwa yang cukup membuat gempar keluarga dari istri saya, yaitu istri saya hamil. Awalnya saya sangat senang karena akan segera mempunyai bayi yang pasti sangat lucu, saya berharap dapat anak perempuan, karena sejak sebelum kami menikah, kami sudah mempersiapkan nama untuknya, tapi setelah 8 minggu Tuhan berkata lain, tidak ada tanda-tanda kemunculan janin di rahim istri saya, dan dokter memvonis Blighted Ovum (bener ga ya nulisnya?), jadi terpaksa harus melakukan kuret.
Meskipun demikian, saya dan istri yakin ini semua adalah rencana Tuhan. Jika Tuhan belum memberikan kami seorang anak, pasti Dia sudah mengetahui bahwa itu adalah yang terbaik untuk kami. Saya pun berulang kali bilang kepada dia, kalaupun Tuhan memang tidak memberikan anak, toh tidak apa, saya juga tidak memaksa, kami bisa mengadopsi anak nantinya. Saya paham betul kondisi istri saya yang memang sulit untuk mempunyai keturunan, dan sejak sebelum menikah saya sudah mengetahui itu, tapi hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk menikahi dia..
Satu tahun di 2011 ini memang banyak peristiwa yang terjadi, ada kejadian menyenangkan dan menyedihkan, tapi saya yakin, masa depan untuk kami masih terbentang cerah di depan sana karena Tuhan sudah menyediakan rencana yang indah untuk kami. Semoga di tahun-tahun yang akan datang, Tuhan memudahkan rejeki untuk keluarga saya, karena saat sebelum menikah dulu, kami punya mimpi, kami punya rumah sederhana di lingkungan yang nyaman, punya seorang anak perempuan yang cantik, dan punya seekor anjing Beagle. Semoga Tuhan mengabulkan mimpi kami tersebut.